Beberapa Poin Penting
* Liga Grassroot Indonesia mulai menggagas konsep liga dan piala liga sejak 2017.
* Kompetisi liga resmi berjalan pada 2021 dan memasuki tahun keenam di 2026.
* Saat ini telah menjangkau 44 kota di 27 provinsi.
* Konsep liga dibuat menyerupai kompetisi profesional, sedangkan piala liga disesuaikan dengan kultur daerah Indonesia.
* Ortuseight menjadi sponsor utama sejak fase awal pengembangan.
* Target besar pada 2027 adalah mengirim pemain berbasis database kompetitif untuk tampil di luar negeri.
JAKARTA – CEO Liga Grassroot Indonesia, Sirazuddin Nauri Abbas mengungkapkan perjalanan panjang terbentuknya kompetisi sepak bola usia dini berbasis liga yang kini telah menjangkau puluhan kota di Indonesia. Konsep awal Grassroot Indonesia mulai digagas sejak 2017 dengan mengusung format kompetisi berkelanjutan seperti liga profesional.
Sirazuddin yang panggilan akrabnya Abbas menjelaskan bahwa sejak awal pihaknya mengembangkan dua format kompetisi, yakni liga dan piala liga. Konsep liga dibuat menyerupai kompetisi profesional internasional, sementara piala liga disesuaikan dengan kondisi geografis dan kultur daerah di Indonesia.

“Di 2017 itu sudah mulai konsep dengan konsep liga dan piala liga. Liga itu secara utuh seperti Liga Italia dan lain-lain. Tapi akhirnya baru berjalan di 2021,” ujar Abbas saat diwawancarai.
Menurutnya, konsep piala liga menjadi solusi terhadap tantangan wilayah Indonesia yang luas, termasuk faktor jarak dan karakteristik kedaerahan. Karena itu, Grassroot Indonesia menerapkan sistem yang lebih fleksibel agar kompetisi usia dini tetap dapat berjalan di berbagai wilayah.
Hingga saat ini, Grassroot Indonesia telah berkembang pesat dengan cakupan 44 kota di sekitar 27 provinsi, termasuk bergabungnya wilayah Papua Barat, Sorong, dan Aceh.
“Sekarang kita sudah mulai bergerak untuk memanage seluruh Indonesia supaya lebih concern dengan konsep Grassroot Indonesia, baik liga ataupun piala liga,” katanya.
Untuk kompetisi liga, Grassroot Indonesia telah berjalan sejak 2021 dan memasuki tahun keenam pada 2026. Sementara format turnamen atau piala liga telah berlangsung sejak konsep awal diperkenalkan pada 2017.
CEO Liga Grassroot Indonesia juga mengapresiasi dukungan sponsor utama yang sejak awal menjadi bagian penting perkembangan Grassroot Indonesia. Ia menyebut ORTUSEIGHT sebagai pihak yang memberikan dukungan besar sejak fase awal ketika konsep kompetisi belum banyak dipercaya.
“Dari nol, dari kita tidak punya apa-apa, dari konsep yang orang tidak percaya sampai orang mengenal Grassroot Indonesia dengan konsep liga miniatur orang dewasa, mereka sangat concern sama kita,” ungkapnya.
Selain sponsor, Liga Grassroot Indonesia juga menjalin berbagai kerja sama dengan pengelola venue dan berbagai pihak pendukung kegiatan. Salah satu dukungan datang dari Kapten Kuspriyanto yang disebut memberi support penuh terhadap pelaksanaan kegiatan, termasuk fasilitas dan dukungan lintas institusi.
Ke depan, Liga Grassroot Indonesia memiliki target besar untuk membangun database pemain usia dini yang kompetitif dan berkualitas. Data tersebut diharapkan menjadi pijakan dalam memperkenalkan talenta muda Indonesia ke level internasional.
“Target 2027 yang paling menjadi concern dan mimpi kita adalah database itu bisa berangkat, bermain, dan menampilkan kualitas di luar negeri, tidak cuma di Indonesia,” tegas Sirazuddin Nauri Abbas. (***)














Komentar