Poin Penting :
- Liga Grassroot Indonesia telah memasuki edisi keenam dan dinilai terus berkembang setiap tahun.
- Kelompok usia utama saat ini: U-9, U-10, U-11, U-12, serta U-13 dan U-14 melalui Youth Premier League.
- Target 2027 adalah memperluas jangkauan provinsi dan membangun database pemain hingga U-16.
- Fokus utama saat ini adalah database pemain usia dini, bukan pengelolaan tim profesional atau orientasi bisnis.
JAKARTA – Pembina Utama Liga Grassroot Indonesia, Zaenal Abidin Zapello, menilai perkembangan kompetisi sepak bola usia dini Liga Grassroot Indonesia menunjukkan progres signifikan sejak pertama kali digelar hingga memasuki edisi keenam.
Menurut Zaenal Abidin Zapello, peningkatan terlihat dari jumlah peserta yang terus bertambah dan semakin luasnya cakupan wilayah peserta dari berbagai provinsi di Indonesia. Jika pada awal penyelenggaraan kompetisi masih terbatas, kini Liga Grassroot Indonesia telah berkembang hingga skala nasional.
“Sejauh ini selalu progres. Dari tahun pertama, kedua, ketiga sampai sekarang terus berkembang. Pesertanya bertambah, bahkan dari provinsi-provinsi lain juga ikut,” ujar Zaenal Abidin Zapello.
Ia menjelaskan, kompetisi nasional mulai digelar sejak tahun ketiga penyelenggaraan meskipun saat itu jumlah provinsi peserta masih terbatas. Namun, pada edisi nasional terakhir di Jakarta International Stadium (JIS), jumlah partisipasi meningkat signifikan dengan melibatkan sekitar 2.500 pemain dari seluruh Indonesia.
Bagi Zaenal Abidin Zapello, perkembangan ini menjadikan Liga Grassroot Indonesia sebagai salah satu alternatif kompetisi bagi sekolah sepak bola (SSB), tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah.
Liga Grassroot Indonesia menerapkan sistem pertandingan dua minggu sekali agar setiap SSB memiliki waktu untuk melakukan evaluasi hasil pertandingan, persiapan tim, hingga pengelolaan kebutuhan operasional.
“Dengan dua minggu sekali itu ada persiapan. SSB bisa evaluasi hasil pertandingan, pemain belajar, pelatih belajar, manajemen juga belajar. Semua ada proses evaluasi,” jelasnya.
Pada penyelenggaraan 2025 di wilayah Jabodetabek, kompetisi usia dini diikuti rata-rata 20 tim pada setiap kelompok umur, mulai dari kategori U-9, U-10, U-11, hingga U-12.
Seiring perkembangan pemain, Liga Grassroot Indonesia kemudian memperluas kompetisi ke kelompok usia remaja melalui Youth Premier League, yang sebelumnya bernama Liga Youth. Kompetisi ini saat ini fokus pada kelompok usia U-13 dan U-14.
“Pemain yang sebelumnya bermain di usia 11 dan 12 naik, maka kita buat Youth League. Sekarang fokusnya masih di usia 13 dan 14,” katanya.
Ke depan, Liga Grassroot Indonesia menargetkan ekspansi kelompok usia hingga U-16 pada 2027. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat database pemain usia muda yang dapat dimanfaatkan pada level nasional maupun internasional.
Zaenal Abidin Zapello menegaskan bahwa fokus utama Liga Grassroot Indonesia saat ini adalah membangun database pemain yang dapat dimanfaatkan klub, akademi, maupun kompetisi elite seperti Elite Pro Academy (EPA) dan turnamen usia muda lainnya.
“Kita hanya punya database. Silakan klub atau pihak lain berinteraksi dengan SSB-nya, bukan langsung ke orang tua. Harapannya SSB juga mendapat manfaat ketika pemainnya berkembang,” ungkapnya.
Ia berharap kerja sama dengan klub atau kompetisi profesional dapat berjalan secara sehat, termasuk kemungkinan dukungan terhadap SSB asal pemain seperti bantuan perlengkapan latihan maupun pembinaan.
Meski membuka peluang menuju pengelolaan yang lebih besar di masa depan, Zaenal Abidin Zapello menegaskan pihaknya belum ingin terlalu jauh masuk ke area bisnis agar idealisme kompetisi tetap terjaga.
“Mungkin suatu saat bisa ke area bisnis, tapi sekarang kita kuatkan pondasi dulu,” tegasnya.
Untuk target 2027, Liga Grassroot Indonesia berfokus memperluas jangkauan ke lebih banyak provinsi serta memperkuat sistem promosi pemain ke level kompetitif tanpa harus mengelola tim secara langsung. (***)














Komentar